LOOK FORWARD TO JESUS

Wright bersaudara merupakan 2 orang kakak beradik yang berhasil mengubah dunia penerbangan. Dikenal dunia sebagai orang yang berhasil menciptakan pesawat udara. Impian Wright bersaudara untuk terbang dimulai dari sebuah mainan helikopter seharga 50 sen yang dibelikan oleh ayah mereka. Impian inilah yang membuat mereka tahun demi tahun, dengan segala kerja keras, eksperimen demi eksperimen, kegagalan, pengorbanan, tidak menyerah. Sehingga pada 17 Desember 1903, pada suatu pagi hari yang dingin dan berangin, di bukit pasir Kitty Hawk, Carolina Utara, keajaiban 12 detik terjadi yang akan mengubah dunia selamanya. Mereka berhasil menerbangkan pesawat hasil rancangan dan kerja keras mereka selama 12 detik. Penerbangan pertama dalam sejarah lahir hari itu, oleh karena impian yang ingin mengubahkan dunia.

12 detik, 12 jam, 12 hari, 12 minggu, 12 bulan, atau 12 tahunkah waktu yang diperlukan agar impian-impian kita akan terwujud. Di dalam Lukas 8:43, ada seorang perempuan yang sudah 12 tahun menderita pendarahan dan tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. Dia menanti kapan impiannya bisa terwujud, terbebas dari penderitaannya. Tetapi ketika dia mendengar bahwa ada seorang yang bernama Yesus sedang berada di Kapernaum dan dia mungkin sudah sering mendengar bagaimana Yesus ini menyembuhkan begitu banyak orang. Maka dia mencoba untuk pergi menghampiri Yesus, berharap penderitaannya bisa segera berakhir, impiannya akan segera terwujud. Tetapi sesampainya di sana, didapatinya begitu banyak orang yang mengerumuni Yesus. Tidak mungkin bagi dia untuk ikut berdesak-desakan diantara orang banyak itu, mengingat penyakitnya sangat tidak memungkinkan. Dia hampir menyerah melihat situasi seperti itu, tetapi sebersit impiannya kembali muncul. Dia mulai membayangkan jika dia sembuh, banyak hal, banyak impiannya yang ingin dia lakukan. Karena itulah, dia bertekad untuk tidak menyerah akan keadaan dan terus maju berusaha menghampiri Yesus. Dan Lukas 8:44 menjadi bukti dari kegigihannya, “Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya.” Kegigihannya, tidak mau menyerah akan situasi saat itu, imannya hari itu membuat impiannya seketika terwujud.

12 tahun lamanya dia menderita pendarahan, bukan hal yang mudah untuk dilalui. Bukan hanya hartanya yang mungkin sudah terkuras habis hanya untuk berobat, dia juga mungkin dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya. Bahkan impian-impian untuk masa depannya juga hancur. Semua itu tentunya mudah membuat kita menjadi kecewa, marah, hingga pahit hati. Tetapi sebaliknya, perempuan itu tidak mengijinkan semua itu menghalanginya untuk menggapai impiannya untuk sembuh.

Dari kisah perempuan yang sakit pendarahan ini (Lukas 8:43), ada 2 hal yang bisa kita pelajari:

  • Look Forward to Jesus

Walaupun belum mengalami kesembuhan setelah 12 tahun berobat di sana-sini, perempuan itu tidak berhenti begitu saja. Dia terus menanti, berharap akan ada seseorang yang bisa menyembuhkannya. Ketika dia mendengar mengenai Yesus, maka dia menanti-nantikan kapan dia bisa bertemu dengan Yesus. Dan ketika Yesus tiba di kota tempat perempuan itu tinggal, dia langsung berusaha menghampiri Yesus dengan semua kekuatannya yang mungkin tersisa. Penantiannya tidak sia-sia, karena saat itu juga kesembuhan terjadi, impiannya terwujud setelah 12 tahun lamanya.

Berapa lama penantian kita agar semua impian kita terwujud? Berapa lama kita menantikan Yesus masuk dalam kehidupan kita? Berapa lama kita menantikan Yesus mengubahkan kehidupan orang yang kita kasihi? Mungkin begitu banyak pertanyaan, begitu banyak masalah, begitu banyak kekurangan, sehingga impian kita sepertinya tidak mungkin lagi terwujud. Hari ini kita belajar untuk tidak menyerah dengan semua itu. Sama seperti perempuan pendarahan tersebut yang tidak menyerah untuk terus menantikan Yesus. Hal yang sama, yang harus kita lakukan yaitu tidak menyerah untuk menantikan Yesus menjamah kehidupan kita dan orang-orang yang kita kasihi.

  • Dare to Step In

Penantian saja tanpa sebuah tindakan atau keberanian untuk melangkah tentu tidak akan membuat impian itu terwujud. Jika perempuan pendarahan itu berhenti untuk berusaha menghampiri Yesus saat itu, karena Yesus dikerumuni oleh begitu banyak orang, maka impian perempuan itu tidak akan bisa terwujud. Kesembuhan tidak akan terjadi walaupun dia sudah menantikan Yesus sekian lama. Harus ada sebuah tindakan ataupun keberanian untuk melangkah, tidak peduli sesulit apapun situasi kita, sedalam apapun permasalahan kita. Berani melangkah keluar dari zona nyaman kita, berani menghadapi badai didalam hidup kita. Karena penantian kita tidak akan sia-sia, Yesus sudah hadir. Pertanyaannya ialah “Apakah anda berani melangkah untuk menjamah jubahNya?” Mengijinkan dia untuk masuk dan mewujudkan impian anda. (Yenni Jonathan)

“We look back and thank God. We look forward and trust God.” (Unknown)

Oleh Yenni Jonathan