BEGIN WITH THE END IN MIND
Greetings Church,
Selamat datang di tahun yang baru, tahun 2026. Happy New Year! Saya berdoa Anda memasuki tahun ini dengan kekuatan yang baru, hati yang penuh pengharapan, dan keyakinan bahwa Tuhan sudah berada jauh di depan kita, menuntun langkah kita satu per satu.
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana seorang arsitek bekerja? Sebelum satu batu pun diletakkan, sebelum tanah digali, sebelum bangunan itu berdiri, seorang arsitek sudah melihat gambaran akhirnya. Ia bukan sekadar merancang hari ini. Ia merancang apa yang akan berdiri di masa depan. Bahkan ketika lokasi kosong, ketika belum ada apa pun yang terlihat, sang arsitek sudah memiliki gambaran lengkap mengenai apa yang akan dibangun.
Tanpa visi akhir, bangunan itu tidak akan pernah tegak. Tanpa gambaran yang jelas, setiap langkah kecil bisa salah arah.
Begitulah kita memasuki tahun 2026. Kita tidak berjalan tanpa arah dan tidak melangkah dengan ketidakpastian yang buta. Bukan berdasarkan apa yang kita bayangkan, melainkan berdasarkan apa yang Tuhan sudah janjikan.
Tema bulan Januari adalah Begin with the End in Mind, sebuah undangan untuk kita melihat tahun ini melalui kacamata janji Tuhan, bukan melalui kekuatan kita sendiri.
Dalam Kejadian 1 sampai 3, kita melihat perjalanan manusia dimulai dengan ciptaan yang sempurna, hubungan yang indah, dan tujuan yang jelas. Tetapi di Kejadian 3, terjadi kejatuhan manusia. Dunia berubah. Rasa malu muncul. Relasi retak. Penderitaan menjadi bagian dari kisah manusia.
Namun yang luar biasa adalah ini: di tengah kerusakan itulah Tuhan mengucapkan janji pertama-Nya. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya akan meremukkan kepalamu.” Kejadian 3:15
- Di tengah kegagalan, Tuhan memberi masa depan.
- Di tengah kejatuhan, Tuhan memberi pengharapan.
- Di tengah dosa, Tuhan memberi arah baru.
Janji ini menjadi fondasi bagi seluruh perjalanan umat manusia. Itulah “end in mind” yang Tuhan berikan bahkan sebelum pemulihan itu terlihat.
Saat kita memasuki 2026, kita membawa pengalaman yang beragam: kemenangan, luka, pertumbuhan, pertanyaan, pergumulan, dan pengharapan. Tetapi kita tidak membangun tahun ini berdasarkan perasaan hari ini. Kita membangunnya berdasarkan cetakan biru dari Tuhan. Kita membangunnya berdasarkan janji-Nya, bukan ketidakpastian kita.
Apa yang Tuhan janjikan jauh lebih kuat daripada apa yang kita lihat saat ini. Ketika janji menjadi arah kita, langkah kita menjadi lebih teguh, lebih terarah, dan lebih penuh damai.
Sepanjang bulan ini, mari kita bertanya pada Tuhan dan pada diri kita sendiri:
- Janji apa yang Tuhan berikan yang harus menjadi arah perjalanan saya di tahun ini?
- Apakah saya membangun rencana saya berdasarkan kekuatan saya sendiri atau berdasarkan kesetiaan Tuhan?
- Apakah saya memulai 2026 dengan ketakutan, atau dengan keyakinan bahwa Tuhan sudah menyiapkan akhir yang baik?
Kita membuka tahun ini dengan iDeclare, dengan 21 Days of Prayer & Fasting, dan dengan kerinduan untuk mencari Tuhan lebih dalam. Semua ini bukan hanya rutinitas, tetapi pernyataan iman bahwa Tuhan adalah awal dan akhir dari perjalanan kita.
Saya percaya 2026 bukan sekadar angka baru di kalender. Ini adalah musim baru, babak baru, dan kesempatan baru yang Tuhan berikan kepada kita. Dan ketika kita memulai tahun ini dengan janji Tuhan di dalam pikiran, kita akan melihat bagaimana Ia memimpin, membentuk, dan membuka jalan dalam cara yang hanya Dia dapat lakukan.
Mari kita melangkah dengan iman, membangun dengan integritas, dan hidup dengan kesadaran bahwa Tuhan sudah melihat akhir yang baik untuk kita. Kita hanya perlu berjalan bersama-Nya, satu langkah pada satu waktu.
Ad majorem Dei gloriam,
Ps. Sam and Naf Hartanto