the fire and the altar
Greetings Church,
Selamat datang di bulan Mei. Saya berdoa Anda semua berada dalam keadaan sehat,
dikuatkan di dalam kasih karunia Tuhan, dan terus bertumbuh dalam setiap musim
kehidupan yang sedang dijalani.
Tema kita bulan ini adalah The Fire and the Altar. Tema ini mengingatkan kita bahwa setiap
kali Tuhan meneguhkan janji-Nya, respons yang tepat dari umat-Nya adalah datang kepada
Tuhan dengan penyembahan dan penyerahan hidup.
Api sering kali berbicara tentang hadirat Tuhan, kuasa Tuhan, dan pekerjaan-Nya yang
nyata. Sementara altar berbicara tentang tempat perjumpaan, tempat penyerahan, dan
tempat di mana hati manusia kembali diarahkan kepada Tuhan. Ketika keduanya bertemu,
kita melihat sebuah kehidupan yang dipenuhi hadirat Tuhan dan dibentuk melalui
penyerahan kepada-Nya.
Dalam perjalanan Abraham, kita melihat pola yang berulang. Setiap kali Tuhan menyatakan
janji-Nya, Abraham membangun mezbah bagi Tuhan.
“Ketika TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: Aku akan
memberikan negeri ini kepada keturunanmu, maka dibangunnyalah di situ
mezbah bagi TUHAN.”
(Kejadian 12:7)
Abraham tidak hanya mendengar janji Tuhan, tetapi ia merespons dengan penyembahan. Ia
mengerti bahwa janji Tuhan bukan hanya untuk diterima, tetapi untuk membawa hidupnya
semakin dekat kepada Tuhan.
Di Kejadian 13, Abraham kembali membangun mezbah. Saat ada pilihan dan
ketidakpastian, ia tetap kembali kepada Tuhan. Di Kejadian 22, Abraham membawa Ishak
ke atas mezbah sebagai tindakan iman dan ketaatan yang penuh penyerahan.
Dari sini kita belajar bahwa penyembahan dan pengorbanan adalah bukti iman kita terhadap janji-janji Tuhan. Iman bukan hanya soal percaya di dalam hati, tetapi terlihat melalui kehidupan yang mau taat dan menyerahkan diri kepada Tuhan.
Sering kali kita ingin api Tuhan, tetapi enggan membangun altar. Kita rindu kuasa-Nya, tetapi
menghindari penyerahan. Kita ingin janji-Nya digenapi, tetapi tidak selalu siap
mempercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya.
Padahal justru di altar itulah hati kita dimurnikan. Di altar itulah prioritas kita ditata ulang. Di
altar itulah kita belajar bahwa Tuhan lebih besar daripada apa pun yang kita pegang.
Bulan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan:
● Apakah saya masih memiliki altar pribadi bersama Tuhan?
● Apakah penyembahan saya lahir dari hati yang sungguh percaya kepada janji-Nya?
● Apakah ada area hidup yang Tuhan minta untuk saya serahkan kembali
kepada-Nya?
Saya percaya ketika altar dibangun, api Tuhan turun. Ketika hati kita diserahkan, Tuhan
bekerja. Ketika iman dinyatakan melalui ketaatan, kita akan melihat tangan Tuhan bergerak
dengan cara yang ajaib.
Living the Dream,
Ps. Sam and Naf Hartanto